“Surga” Di Belahan Lain Jakarta

Sebulan yang lalu, tanpa tedeng aling-aling teman saya mengabarkan akan melakukan short trip ke Pulau Seribu. Alasannya sederhana, ingin berlibur tapi tidak punya waktu dan dana lebih untuk pergi ke destinasi yang lebih jauh. Dia mengajak saya kurang dari 5 hari sebelum hari keberangkatan. Gila?! Memang. Saya rasa dia punya masalah dengan kejiwaannya. Masih labil, layaknya anak baru gede. Berhubung dana yang harus dikeluarkan hanya 350 ribu rupiah untuk 2 hari 1 malam dan saya punya waktu kosong di weekend, akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di trip ini. Kapan lagi melihat salah satu keindahan Jakarta dari perspektif lain? Mungkin ini saatnya, saya membatin.

Tepat tanggal 24 Agustus lalu, dermaga Muara Angke dijadikan meeting point untuk mengumpulkan semua peserta trip, yang mana belum pernah bertemu sebelumnya. Ini juga pertama kalinya saya menyambangi Muara Angke, dan saya cukup kaget dengan keadaan yang saya saksikan. Jalanan disekitar Angke menuju dermaga sudah tergenang. Bau anyir serta amis dari ikan yang baru diturunkan dari kapal nelayan benar-benar menusuk hingga ke pangkal hidung. Sepertinya prediksi Jakarta akan tenggelam dalam waktu 20 tahun kedepan bisa jadi kenyataan bila genangan di sekitar dermaga muara angke tidak ditanggulangi dalam waktu dekat. Jam 5 pagi semua peserta diharapkan sudah berkumpul, sebab jam 6 kapal yang kami tumpangi diharuskan sudah lepas landas dari dermaga. Tapi seperti biasa, Indonesia, kapal baru berangkat sekitar jam 7 lewat.

Ini adalah kapal yang kami tumpangi untuk menuju ke Pulau Harapan:

Image

Sunrise di Dermaga Muara angke:

Image

Dengan harga trip sebesar 350 ribu rupiah fasilitas yang di dapat cukup memuaskan. Awalnya, kita diberangkatkan dari Muara Angke ke Pulau Harapan. Salah satu pulau besar dalam gugusan Pulau Seribu, selain Pulau Pramuka. Setelah berhimpit-himpitan dengan para pelancong dan penduduk pulau selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kapal bersandar di dermaga Pulau Harapan. Disini kami beristirahat sejenak sambil makan siang. Ini juga termasuk di dalam paket yang sudah dibayarkan. Murah kan? Tapi jangan berharap makanan yang tersedia model prasmanan yang super mewah layaknya restoran bintang lima ya, hehehe. Tapi untuk ukuran nasi kotak rasanya cukup melenakan. Setelah bersantai sejenak sehabis makan siang, kami harus melanjutkan perjalanan kembali menuju pulau yang akan kami sambangi, yaitu Pulau Bira Besar yang memakan waktu kurang lebih 45 menit dari Pulau Harapan.

Kami menuju Pulau Bira Besar dengan menggunakan kapal kecil yang biasa digunakan nelayan untuk mencari ikan Selama perjalanan ke Pulau Bira, pemandangan di beberapa pulau yang kami lewati cukup membuat kami kagum dan terkaget-kaget. Sebab, sebelumnya saya tidak pernah menyangka akan menyaksikan laut yang bersih dan pemandangan yang asri di bagian lain Jakarta. Jakarta yang selama ini kotor,dan penuh polusi di dalam ingatan saya, perlahan pudar. Digantikan dengan ketakjuban dan ekspresi keheranan menyaksikan sebuah “surga” kecil yang selama ini luput dari pandangan, yang juga merupakan bagian dari Jakarta. Sesampainya di Pulau Bira kekagetan saya semakin bertambah. Pemandangan yang tidak pernah saya harapkan dapat saya lihat di Jakarta, justru sedang saya saksikan di depan mata saya. Pulau yang dulunya merupakan ex-private island ini masih menyajikan keindahan masa-masa kejayaannya di masa lalu sebelum akhirnya gulung tikar. Dermaga yang bersih dan hamparan pasir putih serta demburan ombak yang syahdu serasa menyambut kedatangan kami. Sesampainya disana, saya sempatkan untuk mengelilingi pulau yang katanya bisa dikelilingi hanya dalam waktu 30 menit dengan berjalan kaki. Deretan cottage yang masih terlihat bagus berbaris rapih dipayungi pohon kelapa dan beberapa pohon besar yang menambah syahdunya semilir angin yang menyapu kulit. Setelah beberapa lama berjalan, saya menemukan kolam renang cukup besar yang sekarang beralih fungsi menjadi rumah lumut dan jentik nyamuk. Tidak jauh dari cottage tempat saya menginap, kemudian saya menemukan helipad yang dulunya difungsikan untuk mendaratkan helikopter bagi pelancong kelas atas yang tidak punya waktu lebih untuk menggunakan kapal. Kurang lebih 50 meter dari helipad, saya kembali menemukan spot menarik, dermaga yang khusus untuk melihat bintang sambil disirami cahaya bulan. Tapi dari semua yang saya lihat, cuma satu yang menarik perhatian saya, yaitu lapangan golf 9 holes yang juga menjadi salah satu fasilitas yang tersedia di pulau ini. Takjub? Sama. Ternyata, usut punya usut. Dulunya pulau ini adalah milik trah Cendana. Mhmmm, no wonder ya?!

Dermaga di Pulau Bira Besar:

Image

Image

View di depan Cottage:

Image

Image

Beberapa views dari Island HoppingImage

 

 

 

 

 

 

Image

Image

Image

Keindahan Pulau seribu ternyata tidak hanya berhenti di Pulau Bira Besar, sebab pulau lain di gugusan Pulau Seribu masih banyak menyimpan keindahan yang tidak kalah mencengangkannya. Selama island hopping, sembari snorkeling, kami juga berhenti di beberapa pulau dan menikmati keindahan yang tak pernah terbayang sebelumnya. Lalu ditutup dengan sunset yang membuat mata menjadi teduh dan berbinar karenanya. Siapa sangka, Jakarta yang selama ini disebut surga dunia, juga memiliki “surga” lain yang masih menyimpan kekayaan dan keindahan yang tak kalah dengan tujuan wisata lainnya. Siapa bilang Jakarta hanya berisi hutan besi?

Advertisements

Jailolo: The Hidden Treasure of Indonesia

Tulisan ini diikutkan dalam “Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh Festival Teluk Jailolo dan Wego Indonesia

Bila berbicara tentang keindahan Indonesia, rasa-rasanya kita tidak akan pernah bisa menemukan awal maupun akhirnya. Mulai dari keragaman suku, tradisi dan budaya, kelezatan kuliner, hingga keindahan alam maha dahsyat yang tiada batasnya, semua ada dalam satu tempat yang disebut, Indonesia. Akan tetapi, selama ini kita seperti berada dalam labirin sempit setiap ditanyakan akan berlibur kemana. Padahal keindahan serta keberagaman yang dimiliki Indonesia sangatlah banyak dan tak terkira jumlah serta keindahannya. Namun, acapkali membicarakan tentang destinasi liburan, yang lagi-lagi tersebut adalah Bali dan primadona baru destinasi wisata Indonesia, yaitu Lombok dengan beberapa pulau atau gili yang ada di dalamnya. Bosan? Bisa jadi iya. Tapi apa daya, karena kedua tempat wisata ini yang paling sering dibicarakan, tidak hanya dalam dunia nyata tapi juga maya. Jika ditanya tentang kesiapan menerima kunjungan wisata, mungkin Bali dan Lombok bisa dibilang paling siap karena setiap tahunnya selalu menerima wisatawan asing maupun lokal yang silih berganti mengisi setiap sudut indah kedua destinasi wisata tersebut. Sayang memang, padahal, beberapa destinasi wisata lain di Indonesia juga memiliki kesiapan yang sama dengan Bali dan Lombok, namun acapkali gagal dalam pengeksekusian dan mempromosikan destinasi wisatanya dengan baik.

Kalau sudah begini, harusnya destinasi wisata lain yang cukup potensial di Indonesia tidak hanya menunggu momen akan tetapi mengambil momen yang ada. Kesohoran Bali dan Lombok di seluruh dunia harusnya bisa dijadikan momentum yang pas untuk menarik minat wisatawan mengeksplorasi destinasi wisata unik lainnya di Indonesia, seperti Jailolo misalnya. Dengan keberagaman tradisi, keunikan dan eksotisme kuliner yang terlihat dari keberagaman rempah-rempah yang ada, serta keindahan alam yang tak kalah luar biasanya, harusnya Jailolo bisa menjadi salah satu destinasi wajib yang patut dikunjungi jika ingin merasakan sisi lain Indonesia. Suatu hal tidak akan menjadi besar jika tidak dibicarakan dan dirasakan langsung oleh penikmatnya, begitu juga dengan Jailolo. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membuat Jailolo sama hot-nya seperti Bali dan Lombok adalah dengan mengundang langsung para travel blogger dari mancanegara untuk merasakan langsung keindahan serta ke-eksotisan Jailolo. Kenapa travel blogger? Karena sadar ataupun tidak, mereka memberikan banyak pengaruh buat kita, para wisatawan, untuk datang ketempat yang belum pernah didengar dan dirasakan sebelumnya. Sebab testimonial dari para travel blogger sama pentingnya dengan fungsi marketer yang berusaha meyakinkan konsumennya agar menggunakan produk yang mereka tawarkan. Apalagi di era informatika yang bebas dan luas ini, paling tidak semua orang dari belahan dunia manapun dapat “melihat” serta “merasakan” keindahan Jailolo meskipun hanya melalui foto dan cerita pengalaman para travel blogger tersebut. Dengan demikian, para wisatawan akan tergerak untuk berkomentar dan merekam Jailolo di dalam ingatan sebagai destinasi menarik yang harus dimasukan kedalam bucket list di trip mereka selanjutnya.

Cara selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan aktif memberikan informasi seputar Jailolo di berbagai media cetak, elektronik dan media sosial. Mulai dari cara menuju ke berbagai tempat menarik yang harus dikunjungi, akomodasi dari dan menuju ke Jailolo, serta berapa banyak budget yang harus dikeluarkan wisatawan untuk menghabiskan waktu dari dan menuju ketempat tujuan yang diinginkan. Selain itu, jaminan kemanan dan juga kerjasama dengan para penduduk lokal pun perlu dilakukan. Semisal dengan rutin melakukan atraksi-atraksi budaya yang dilakukan secara berkala dan lebih mengeksplorasi kebudayaan lokal agar memberikan pengalaman yang berbeda bagi para wisatawan ketika berada di Jailolo, tidak hanya Festival Teluk Jailolo tentunya. Setelah semuanya sudah dirasakan siap dan berkesinambungan, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan kerjasama dengan berbagai maskapai penerbangan. Seperti memberikan penawaran tiket murah di musim liburan atau membuat paket-paket wisata yang bersahabat dengan kantong wisatawan asing maupun lokal. Karena sadar ataupun tidak, promo yang dibuat oleh maskapai penerbangan sangat mempengaruhi minat wisatawan untuk datang ke suatu tempat. Sebab terkadang, perbedaan harga yang mencolok antar destinasi wisata bisa membuat suatu destinasi menjadi kurang begitu dilirik karena dianggap tidak bersahabat dengan kantong. Apalah artinya sebuah keindahan bila sulit digapai oleh kita sebagai penikmatnya? Maka ia hanya akan berakhir sebagai sebuah mitos yang hanya mampu dibicarakan tanpa bisa dirasakan. Oleh sebab itu saya ingin merasakan langsung keindahan Jailolo, yang selama ini cerita tentang kemegahannya hanya saya dapat dari cerita mulut ke mulut dan tulisan. Agar nantinya cerita tentang keindahan Jailolo tidak hanya terekam sebagai sebuah mitos di dalam ingatan saya, namun menjadi sebuah jejak indah yang bisa diceritakan kembali ke generasi mendatang.

Jailolo, Si Pulau Rempah

Berlibur adalah salah satu cara untuk melepas penat dari segala kesibukan serta hiruk-pikuk yang kita rasakan sejak bangun hingga kembali lagi ke peraduan. Banyak yang tidak menyadari bahwa liburan adalah salah satu ritual yang sama pentingnya seperti tidur dan juga mandi. Ya, mandi. Mungkin diantara kita tidak menyadari bahwa mandi adalah salah satu ritual yang cukup sederhana namun ampuh untuk menenangkan diri sekaligus melepaskan penat setelah seharian beraktivitas. Akan tetapi dari kedua ritual tersebut, berlibur adalah ritual besar yang harusnya dilakukan oleh semua umat manusia, paling tidak setahun dua atau tiga kali. Sebab dengan berlibur, kita dapat mendapatkan sudut pandang baru dalam memandang hidup sekaligus mengigat kembali esensi dari hidup itu sendiri, kembali ke alam dan larut bersamanya.

Namun terkadang, banyak dari kita yang sulit untuk berlibur dengan alasan yang beragam. Mulai dari pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, kebutuhan yang harus ditunaikan karena dianggap lebih mendesak daripada harus melakukan liburan, hingga permasalahan paling dasar, yaitu takut untuk berlibur sendiri karena keamanan yang kurang terjamin dan minimnya informasi mengenai destinasi wisata yang ada, sehingga memberikan kebingungan dan berakhir dengan batalnya berlibur. Beberapa alasan di atas pasti sering terlintas di kepala kita, termasuk saya. Akan tetapi, semua itu berubah setelah saya berani memutuskan untuk berlibur sendiri dan bertemu dengan banyak pengalaman serta orang baru, yang kemudian membuat saya ingin melakukannya lagi dan lagi.

Alasan saya ingin mengikuti Festival Teluk Jailolo 2012 ini mungkin akan terdengar klise, sebab keindahan alam Jailolo yang saya lihat di beberapa website dan juga cerita dari beberapa teman lah yang membuat saya ingin merasakannya secara langsung. Menghirup segarnya udara pantai Jailolo yang dikelilingi oleh beberapa gunung, tentunya akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan untuk mata dan juga hati saya. Disamping itu, adat istiadat unik yang masih dilestarikan oleh saudara-saudara di Jailolo juga menambah penasaran saya untuk dapat berada di sana. Jailolo yang dikelilingi oleh pantai, anehnya tidak membuat penduduknya memilih menjadi nelayan, melainkan petani. Hal ini juga lah yang membuat saya tertarik mengetahui lebih banyak tentang adat istiadat Jailolo yang dikenal sangat beragam dan penuh dengan toleransi serta banyak hal lain yang tidak dapat dikatakan dengan kata-kata yang pasti akan lebih berkesan bila dinikmati secara langsung. Namun, yang paling penting dari semua itu, sebagai seorang Indonesia terkadang saya malu melihat bagaimana seorang asing dapat menjelaskan destinasi wisata di negeri ini jauh lebih baik dan detail dari orang Indonesia itu sendiri. Hal ini sekaligus membuat saya mempertanyakan ke-Indonesiaan saya. Ironis memang, tapi itu lah yang terjadi saat ini. Dengan alasan ini, saya semakin ingin melihat sisi lain dari Indonesia yang belum pernah saya kunjungi dan lihat sebelumnya, sehingga sebagai orang Indonesia, saya bisa menceritakan tentang negara saya lebih baik daripada asing.

Bila saya mendapatkan kesempatan untuk berada di Halmahera Barat, hal yang pasti dilakukan adalah larut bersama saudara-saudara di Halmahera Barat dalam kemeriahaan sebuah festival yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Menikmati tempat yang dulunya sempat menjadi rebutan para penjajah karena kekayaan alam dan sumber daya nya ini tidak akan lengkap bila tidak melihat secara langsung aneka rempah-rempah yang menjadi primadona, bahkan dianggap sama berharganya dengan emas kala itu. Keindahan bawah laut Halmahera Barat yang masih jarang dijamah, pastinya akan memberikan pengalaman yang tidak akan terlupakan dan membuat hati berdecak kagum mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Berenang diantara karang dan ikan-ikan beraneka warna, sambil sesekali bermain air sudah pasti menjadi agenda wajib yang harus dilakukan. Melihat keberagamaan serta keunikan tradisi yang ada, barang tentu bukan pengalaman yang bisa diperoleh dalam kesehariaan, mengunjungi berbagai desa yang ada dan dengan tradisi masing-masing akan memberikan nilai baru dalam memandang hidup, seperti merasakan tradisi makan bersama di rumah adat dan menyaksikan secara langsung tarian Legu Salau. Kemudian berkunjung ke desa Wago Ngira yang masih menggunakan anyaman dedaunan sebagai baju dan melihat tradisi yang masih terjaga sekaligus melihat prosesi-prosesi adat yang masih dijalankan. Misalnya, seperti melakukan evaluasi hidup kepada setiap penduduk yang sudah memasuki usia 25 dan kelipatannya sudah pasti memberikan nilai tersendiri bagi kita untuk memaknai hidup. Berkeliling menyaksikan sisa-sisa peninggalan penjajahan dan melihat benteng-benteng serta bangunan-bangunan lampau rasanya akan memberikan kita bayangan tentang keadaan yang terjadi kala itu, pastinya akan membawa kita menerawang jauh ke masa rempah-rempah masih menjadi rebutan bagi setiap koloni yang pernah berdiam disini. Sungguh perjalanan yang amat menyenangkan bila kita bisa merasakan langsung hal-hal yang sudah pasti sulit kita temukan dalam kesehariaan.

Untuk menggambarkan keindahan serta keberagaman yang ada di Halmahera akan sangat sulit rasanya, sebab begitu banyak hal-hal indah yang harus di lihat langsung dengan pandangan mata. Bila saya diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Halmahera, tempat pertama yang akan saya kunjungi adalah Jailolo itu sendiri. Seperti yang kita tahu, Jailolo memiliki keindahan alam pegunungan sekaligus pantai. Selain itu, suku yang berdiam di Jailolo juga sangat beragam dan pastinya memiliki keunikan tradisinya masing-masing. Namun suku asli yang pertama kali berdiam disana adalah suku Wayoli, yang sudah pasti memiliki tradisi yang tidak kalah unik. Desa Lolori, Tolosa dan Tondowongi akan menjadi tujuan berikutnya, sebab jika beruntung kita dapat mengikuti upacara makan bersama di Sasadu (Rumah Adat). Ketiga desa ini memiliki keunikannya masing-masing, Di Desa Lolori, Kepala adat dan Dewan Adat tidak dipilih oleh masyarakat, melainkan dari garis keturunan sehingga hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kita, jika kebetulan sedang diadakan pemilihan ketika berkunjung. Destinasi berikutnya adalah desa Mutui yang dapat ditempuh dalam waktu 30 menit menggunakan Katinting dari Jailolo. Disini kita dapat melihat perkebunan pala, cengkih dan kopra yang menjadi sumber pemasukan utama desa ini. Setelah meelihat rempah-rempah di Mutui, destinasi terdekat dari Halmahera Barat adalah Desa Susupu, yang memakan waktu 45 menit menggunakan mobil pribadi. Di desa ini, pantai menjadi objek utama yang dapat kita nikmati, sebab sudah ada beberapa fasilitas yang di bangun pemerintah setempat dan memudahkan kita untuk menikmati keindahan laut yang ada dengan cara snorkeling dan diving.

Desa berikutnya yang akan menjadi tujuan saya adalah desa Akediri, di sini kita dapat melihat Rumah Adat yang berada di samping pasar, yang mana menjadi daya tarik tersendiri, sebab kita dapat melihat masyarakat berkumpul dan bermusyawarah sembari melihat kesibukan pasar. Melihat keindahan Jailolo dan masyarakatnya tidak akan lengkap bila tidak mengunjungi Desa Wago Ngira di Halmahera Utara yang memiliki agama dan tradisi yang unik. Masyarakat Wago Ngira masih menggunakan daun, khususnya daun pandan untuk menutup anggota tubuh mereka dan menggantinya setiap beberapa hari sekali. Namun, yang menjadi daya tarik utama dari desa ini adalah kehidupan masyarakatnya yang masih tertutup dan menjaga tradisi, serta memiliki agama sendiri, yaitu Agama Wago Ngira. Yang mana prinsip Agama Wago Ngira tidak peduli dengan kehidupan diluar mereka dan lebih memilih mengalah daripada menghadapi masalah dengan dunia diluar mereka. Ini terlihat dari setiap pengunjung yang ingin menginap di sini akan disediakan tempat yang terpisah dari kegiatan beraktivitas mereka dan kita akan di sediakan bahan makan yang harus dimasak sendiri. Kemudian destinasi terakhir yang akan saya kunjungi adalah situs budaya Benteng Toluko dan Nostre Senora De Rosario. Benteng Toluko adalah benteng pertama yang didirikan Portugis, yang dulu bernama Benteng Santo Lukas. Benteng ini dulu dibangun untuk mengintai musuh yang akan datang ke Ternate. Selain Benteng Toluko, ada Benteng Nostre De Rosaria atau lebih di kenal dengan nama Benteng Castela yang dibangun oleh Portugis di Kota Jadi. Dari kedua benteng ini kita dapat melihat kejadian yang pernah terjadi selama masa penjajahan di bumi Halmahera. Semua keindahan ini bisa jadi dapat kita nikmati selama kurang lebih seminggu, meskipun masih akan merasa kurang. Tapi yang pasti, bila saya terpilih dan diberangkatkan ke Festival Teluk Jailolo sudah barang tentu akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan sekaligus akan membuat saya lebih tahu lagi tentang keberagaman yang ada di Indonesia beserta keunikannya dan akan menceritakannya kepada yang lain, dengan harapan dapat terpanggil untuk melakukan wisata dan menikmati secara langsung keindahan Jailolo, si pulau rempah.