Jailolo, Si Pulau Rempah

Berlibur adalah salah satu cara untuk melepas penat dari segala kesibukan serta hiruk-pikuk yang kita rasakan sejak bangun hingga kembali lagi ke peraduan. Banyak yang tidak menyadari bahwa liburan adalah salah satu ritual yang sama pentingnya seperti tidur dan juga mandi. Ya, mandi. Mungkin diantara kita tidak menyadari bahwa mandi adalah salah satu ritual yang cukup sederhana namun ampuh untuk menenangkan diri sekaligus melepaskan penat setelah seharian beraktivitas. Akan tetapi dari kedua ritual tersebut, berlibur adalah ritual besar yang harusnya dilakukan oleh semua umat manusia, paling tidak setahun dua atau tiga kali. Sebab dengan berlibur, kita dapat mendapatkan sudut pandang baru dalam memandang hidup sekaligus mengigat kembali esensi dari hidup itu sendiri, kembali ke alam dan larut bersamanya.

Namun terkadang, banyak dari kita yang sulit untuk berlibur dengan alasan yang beragam. Mulai dari pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, kebutuhan yang harus ditunaikan karena dianggap lebih mendesak daripada harus melakukan liburan, hingga permasalahan paling dasar, yaitu takut untuk berlibur sendiri karena keamanan yang kurang terjamin dan minimnya informasi mengenai destinasi wisata yang ada, sehingga memberikan kebingungan dan berakhir dengan batalnya berlibur. Beberapa alasan di atas pasti sering terlintas di kepala kita, termasuk saya. Akan tetapi, semua itu berubah setelah saya berani memutuskan untuk berlibur sendiri dan bertemu dengan banyak pengalaman serta orang baru, yang kemudian membuat saya ingin melakukannya lagi dan lagi.

Alasan saya ingin mengikuti Festival Teluk Jailolo 2012 ini mungkin akan terdengar klise, sebab keindahan alam Jailolo yang saya lihat di beberapa website dan juga cerita dari beberapa teman lah yang membuat saya ingin merasakannya secara langsung. Menghirup segarnya udara pantai Jailolo yang dikelilingi oleh beberapa gunung, tentunya akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan untuk mata dan juga hati saya. Disamping itu, adat istiadat unik yang masih dilestarikan oleh saudara-saudara di Jailolo juga menambah penasaran saya untuk dapat berada di sana. Jailolo yang dikelilingi oleh pantai, anehnya tidak membuat penduduknya memilih menjadi nelayan, melainkan petani. Hal ini juga lah yang membuat saya tertarik mengetahui lebih banyak tentang adat istiadat Jailolo yang dikenal sangat beragam dan penuh dengan toleransi serta banyak hal lain yang tidak dapat dikatakan dengan kata-kata yang pasti akan lebih berkesan bila dinikmati secara langsung. Namun, yang paling penting dari semua itu, sebagai seorang Indonesia terkadang saya malu melihat bagaimana seorang asing dapat menjelaskan destinasi wisata di negeri ini jauh lebih baik dan detail dari orang Indonesia itu sendiri. Hal ini sekaligus membuat saya mempertanyakan ke-Indonesiaan saya. Ironis memang, tapi itu lah yang terjadi saat ini. Dengan alasan ini, saya semakin ingin melihat sisi lain dari Indonesia yang belum pernah saya kunjungi dan lihat sebelumnya, sehingga sebagai orang Indonesia, saya bisa menceritakan tentang negara saya lebih baik daripada asing.

Bila saya mendapatkan kesempatan untuk berada di Halmahera Barat, hal yang pasti dilakukan adalah larut bersama saudara-saudara di Halmahera Barat dalam kemeriahaan sebuah festival yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Menikmati tempat yang dulunya sempat menjadi rebutan para penjajah karena kekayaan alam dan sumber daya nya ini tidak akan lengkap bila tidak melihat secara langsung aneka rempah-rempah yang menjadi primadona, bahkan dianggap sama berharganya dengan emas kala itu. Keindahan bawah laut Halmahera Barat yang masih jarang dijamah, pastinya akan memberikan pengalaman yang tidak akan terlupakan dan membuat hati berdecak kagum mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Berenang diantara karang dan ikan-ikan beraneka warna, sambil sesekali bermain air sudah pasti menjadi agenda wajib yang harus dilakukan. Melihat keberagamaan serta keunikan tradisi yang ada, barang tentu bukan pengalaman yang bisa diperoleh dalam kesehariaan, mengunjungi berbagai desa yang ada dan dengan tradisi masing-masing akan memberikan nilai baru dalam memandang hidup, seperti merasakan tradisi makan bersama di rumah adat dan menyaksikan secara langsung tarian Legu Salau. Kemudian berkunjung ke desa Wago Ngira yang masih menggunakan anyaman dedaunan sebagai baju dan melihat tradisi yang masih terjaga sekaligus melihat prosesi-prosesi adat yang masih dijalankan. Misalnya, seperti melakukan evaluasi hidup kepada setiap penduduk yang sudah memasuki usia 25 dan kelipatannya sudah pasti memberikan nilai tersendiri bagi kita untuk memaknai hidup. Berkeliling menyaksikan sisa-sisa peninggalan penjajahan dan melihat benteng-benteng serta bangunan-bangunan lampau rasanya akan memberikan kita bayangan tentang keadaan yang terjadi kala itu, pastinya akan membawa kita menerawang jauh ke masa rempah-rempah masih menjadi rebutan bagi setiap koloni yang pernah berdiam disini. Sungguh perjalanan yang amat menyenangkan bila kita bisa merasakan langsung hal-hal yang sudah pasti sulit kita temukan dalam kesehariaan.

Untuk menggambarkan keindahan serta keberagaman yang ada di Halmahera akan sangat sulit rasanya, sebab begitu banyak hal-hal indah yang harus di lihat langsung dengan pandangan mata. Bila saya diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Halmahera, tempat pertama yang akan saya kunjungi adalah Jailolo itu sendiri. Seperti yang kita tahu, Jailolo memiliki keindahan alam pegunungan sekaligus pantai. Selain itu, suku yang berdiam di Jailolo juga sangat beragam dan pastinya memiliki keunikan tradisinya masing-masing. Namun suku asli yang pertama kali berdiam disana adalah suku Wayoli, yang sudah pasti memiliki tradisi yang tidak kalah unik. Desa Lolori, Tolosa dan Tondowongi akan menjadi tujuan berikutnya, sebab jika beruntung kita dapat mengikuti upacara makan bersama di Sasadu (Rumah Adat). Ketiga desa ini memiliki keunikannya masing-masing, Di Desa Lolori, Kepala adat dan Dewan Adat tidak dipilih oleh masyarakat, melainkan dari garis keturunan sehingga hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kita, jika kebetulan sedang diadakan pemilihan ketika berkunjung. Destinasi berikutnya adalah desa Mutui yang dapat ditempuh dalam waktu 30 menit menggunakan Katinting dari Jailolo. Disini kita dapat melihat perkebunan pala, cengkih dan kopra yang menjadi sumber pemasukan utama desa ini. Setelah meelihat rempah-rempah di Mutui, destinasi terdekat dari Halmahera Barat adalah Desa Susupu, yang memakan waktu 45 menit menggunakan mobil pribadi. Di desa ini, pantai menjadi objek utama yang dapat kita nikmati, sebab sudah ada beberapa fasilitas yang di bangun pemerintah setempat dan memudahkan kita untuk menikmati keindahan laut yang ada dengan cara snorkeling dan diving.

Desa berikutnya yang akan menjadi tujuan saya adalah desa Akediri, di sini kita dapat melihat Rumah Adat yang berada di samping pasar, yang mana menjadi daya tarik tersendiri, sebab kita dapat melihat masyarakat berkumpul dan bermusyawarah sembari melihat kesibukan pasar. Melihat keindahan Jailolo dan masyarakatnya tidak akan lengkap bila tidak mengunjungi Desa Wago Ngira di Halmahera Utara yang memiliki agama dan tradisi yang unik. Masyarakat Wago Ngira masih menggunakan daun, khususnya daun pandan untuk menutup anggota tubuh mereka dan menggantinya setiap beberapa hari sekali. Namun, yang menjadi daya tarik utama dari desa ini adalah kehidupan masyarakatnya yang masih tertutup dan menjaga tradisi, serta memiliki agama sendiri, yaitu Agama Wago Ngira. Yang mana prinsip Agama Wago Ngira tidak peduli dengan kehidupan diluar mereka dan lebih memilih mengalah daripada menghadapi masalah dengan dunia diluar mereka. Ini terlihat dari setiap pengunjung yang ingin menginap di sini akan disediakan tempat yang terpisah dari kegiatan beraktivitas mereka dan kita akan di sediakan bahan makan yang harus dimasak sendiri. Kemudian destinasi terakhir yang akan saya kunjungi adalah situs budaya Benteng Toluko dan Nostre Senora De Rosario. Benteng Toluko adalah benteng pertama yang didirikan Portugis, yang dulu bernama Benteng Santo Lukas. Benteng ini dulu dibangun untuk mengintai musuh yang akan datang ke Ternate. Selain Benteng Toluko, ada Benteng Nostre De Rosaria atau lebih di kenal dengan nama Benteng Castela yang dibangun oleh Portugis di Kota Jadi. Dari kedua benteng ini kita dapat melihat kejadian yang pernah terjadi selama masa penjajahan di bumi Halmahera. Semua keindahan ini bisa jadi dapat kita nikmati selama kurang lebih seminggu, meskipun masih akan merasa kurang. Tapi yang pasti, bila saya terpilih dan diberangkatkan ke Festival Teluk Jailolo sudah barang tentu akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan sekaligus akan membuat saya lebih tahu lagi tentang keberagaman yang ada di Indonesia beserta keunikannya dan akan menceritakannya kepada yang lain, dengan harapan dapat terpanggil untuk melakukan wisata dan menikmati secara langsung keindahan Jailolo, si pulau rempah.

Advertisements